Di rimba Aceh, matanya sudah rabun,
tapi telinganya masih bisa membedakan derap kuda musuh dari derap kuda sendiri.
Umur tak lagi muda, kaki tak lagi kuat berlari,
tapi tombak di tangannya tak pernah ditaruh sembarangan.
Suaminya gugur, ia tak sempat menangis lama,
sebab air mata katanya bisa ditunda, perang tidak.
Ia pindah dari hutan ke hutan, dari sembunyi ke sembunyi,
membawa dendam yang dijaga baik-baik seperti bara dalam sekam.
Kini ia jadi nama jalan dan judul bab di buku sejarah,
dibaca sekilas lalu dilupakan sebelum ujian selesai.
Padahal dulu, di usia senjanya,