273325270_249079567397070_4779384444823751184_n
Dari Tanah Sunyi, Buku-Buku Itu Menyala

 

Adrianus Bareng

Guru SMPK Frater Maumere

Pagi di Kloangpopot selalu datang bersama angin kering dari perbukitan. Debu tipis beterbangan di halaman SDN Watupedar yang tampak tua dan nyaris dilupakan. Cat dinding sekolah mengelupas, beberapa kursi kayu mulai rapuh, sementara perpustakaan kecil di sudut bangunan hanya berisi buku-buku lama yang sampulnya mulai kusam.

Di depan ruang guru, Erna Ermelinda berdiri memandangi halaman sekolah yang sepi. Jumlah murid terus berkurang dari tahun ke tahun. Banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah lain yang dianggap lebih maju. Bahkan pernah terdengar kabar bahwa SDN Watupedar akan ditutup karena dianggap tidak berkembang.

Namun Erna tidak pernah benar-benar menerima keadaan itu.

Baginya, sekolah bukan sekadar bangunan tua dengan meja dan papan tulis. Sekolah adalah harapan. Selama masih ada anak-anak yang datang membawa tas lusuh dan mata penuh mimpi, sekolah itu harus tetap hidup.

Meski demikian, perjuangan tidak mudah. Guru di sekolah itu sangat terbatas. Tidak semua memiliki kemampuan mengembangkan pembelajaran literasi. Murid-murid pun belum terbiasa membaca, apalagi menulis. Ketika diminta membuat satu paragraf sederhana, sebagian besar hanya diam menatap kertas kosong.

Belum lagi soal keuangan. Dana sekolah hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kadang Erna harus menggunakan uang pribadinya membeli spidol, kertas, atau buku tulis untuk siswa. Jaringan internet di sekolah pun sangat tidak memadai. Untuk mengirim laporan atau mengikuti pelatihan daring, guru-guru sering harus mencari sinyal hingga ke pinggir jalan atau naik ke tempat yang lebih tinggi di sekitar kampung. Ada kalanya mereka menunggu berjam-jam hanya untuk mengirim satu berkas.

Namun tidak seorang pun benar-benar menyerah.

Guru-guru honor tetap datang mengajar dengan penuh kesetiaan meski menerima penghasilan yang sangat terbatas. Mereka membantu sekolah dengan tenaga dan kesabaran yang tulus. Erna mengenal perjuangan mereka satu per satu. Ada yang harus berjalan jauh setiap pagi, ada yang tetap mengajar meski kendaraan rusak, bahkan ada yang membeli sendiri perlengkapan mengajarnya.

Suatu hari, Erna mendapat kesempatan mengikuti lomba pendidikan di Maumere. Itu pertama kalinya dalam beberapa bulan ia keluar dari rutinitas sekolah yang melelahkan. Di sela kegiatan, ia mengunjungi SMPK Frater Maumere.

Saat memasuki lingkungan sekolah itu, Erna terdiam cukup lama.

Dinding sekolah dipenuhi puisi dan cerpen karya siswa. Rak-rak buku tertata rapi. Anak-anak berjalan sambil membawa buku bacaan. Di aula sekolah, beberapa siswa bahkan sedang berdiskusi tentang tulisan mereka sendiri.

Erna merasa seperti melihat dunia yang berbeda.

“Anak-anak di sini menulis buku?” tanyanya tak percaya kepada salah seorang guru.

Guru itu tersenyum kecil.
“Bukan hanya menulis, Bu. Mereka percaya bahwa tulisan mereka berarti.”

Kalimat itu menghantam hati Erna lebih kuat daripada tepuk tangan lomba mana pun.

Sepanjang perjalanan pulang menuju Kecamatan Doreng, pikirannya penuh pertanyaan. Mengapa sekolah kecil di Watupedar tidak bisa berubah seperti itu? Mengapa murid-murid di sana harus terus merasa kecil hanya karena lahir di kampung terpencil?

Malam itu, dengan sinyal telepon yang putus-sambung, Erna memberanikan diri menghubungi Ardi Bareng, seorang penggerak literasi yang dikenalnya dari media sosial.

Percakapan mereka berlangsung lama.

Erna menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi—tentang sekolah yang hampir kehilangan murid, tentang guru-guru yang belum percaya diri, tentang kemampuan menulis siswa yang rendah, tentang jaringan internet yang sulit, juga tentang ancaman penutupan sekolah.

Di ujung telepon, Ardi mendengarkan dengan sabar.

“Sekolah besar tidak selalu lahir di kota besar,” katanya pelan. “Kadang perubahan justru tumbuh dari tempat yang paling sunyi.”

Kalimat itu seperti menyalakan sesuatu di dalam diri Erna.

Beberapa minggu kemudian, Ardi benar-benar datang ke SDN Watupedar. Kedatangannya disambut rasa penasaran para guru dan murid. Sebagian tidak mengerti mengapa harus belajar menulis, sementara membaca saja masih terbata-bata.

Pelatihan menulis puisi dilaksanakan di ruang kelas sederhana yang panas. Anak-anak duduk di bangku kayu sambil memegang kertas seadanya.

“Apa yang paling kalian ingat dari kampung ini?” tanya Ardi.

Seorang murid mengangkat tangan malu-malu.

“Pohon durian dan cengkeh, Pak.”

Ardi tersenyum kecil.
“Kenapa kalian memilih itu?”

Anak itu menunduk sebentar sebelum menjawab pelan.

“Kalau musim durian tiba, kampung kami ramai sekali. Tapi kalau musim cengkeh datang, orang tua kami bilang itu musim harapan.”

Ruangan mendadak hening.

Beberapa guru saling memandang. Kalimat sederhana dari seorang anak kecil itu terasa begitu dalam.

“Bagus,” kata Ardi lirih. “Tulislah tentang harapan itu.”

Anak-anak mulai menulis perlahan. Ada yang menulis tentang aroma cengkeh yang dijemur di halaman rumah, tentang ayah yang pulang membawa karung hasil panen, tentang durian matang yang dibagi bersama keluarga saat malam tiba, juga tentang jalan panjang menuju sekolah yang mereka lewati setiap hari.

Tulisan mereka masih sederhana, tetapi terasa hidup dan jujur—seperti tanah tempat mereka tumbuh.

Di sudut ruangan, Erna memperhatikan dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia melihat murid-muridnya berani menuangkan pikiran mereka sendiri.

Pelatihan itu menjadi awal perubahan.

Setelah kegiatan selesai, Erna tidak berhenti bergerak. Ia mengajak guru-guru membuat pojok baca sederhana di kelas. Dinding sekolah mulai dipenuhi puisi karya siswa. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, anak-anak diminta membaca cerita pendek atau menulis beberapa kalimat tentang pengalaman mereka.

Awalnya banyak yang menertawakan usaha itu.

“Menulis buku? Anak-anak kampung begini?” sindir seseorang suatu hari.

Erna hanya tersenyum. Ia terlalu sibuk bekerja untuk membalas ejekan.

Bersama Ardi, sekolah itu kemudian mendaftarkan diri dalam program Gerakan Sekolah Menulis Buku. Meski fasilitas minim dan waktu pendampingan terbatas, mereka tetap mencoba. Bahkan ketika jaringan internet sulit digunakan, guru-guru tetap berusaha mengirim hasil tulisan dan mengikuti arahan program dengan segala keterbatasan.

Hari-hari berlalu dengan penuh perjuangan. Kadang listrik padam ketika guru sedang mengetik naskah. Kadang hujan bocor masuk ke ruang kelas. Bahkan pernah beberapa guru hampir menyerah karena merasa hasil mereka tidak cukup baik.

Tetapi Erna selalu hadir memberi semangat.

“Kita mungkin sekolah kecil,” katanya kepada guru-guru suatu sore, “tetapi mimpi anak-anak kita tidak boleh kecil.”

Ucapan itu perlahan menjadi tenaga bagi semua orang.

Perubahan kecil mulai terlihat. Anak-anak yang dulu malu berbicara kini berani membaca puisi di depan kelas. Orang tua mulai datang melihat karya anak mereka dipajang di sekolah. Beberapa warga yang sebelumnya tidak peduli mulai menyumbangkan buku bekas.

Namun ujian terbesar datang ketika kabar tentang rencana penutupan sekolah kembali terdengar. Jumlah murid dianggap terlalu sedikit, sementara kondisi bangunan dinilai tidak layak.

Malam itu Erna duduk sendiri di ruang kerjanya. Lampu redup menerangi tumpukan tulisan siswa di atas meja. Ada puisi tentang ibu, cerita tentang kampung, juga mimpi-mimpi kecil anak-anak Watupedar.

Perlahan air mata jatuh di pipinya.

Ia takut semua perjuangan itu berhenti begitu saja.

Tetapi ternyata, karya-karya sederhana itulah yang menjadi penyelamat sekolah. Tulisan para siswa mulai dikenal dalam kegiatan literasi daerah. Beberapa pihak datang berkunjung melihat perubahan SDN Watupedar. Mereka melihat anak-anak yang penuh percaya diri, guru-guru yang semangat belajar, dan sekolah kecil yang perlahan hidup kembali karena literasi.

Tak lama kemudian, bantuan rehabilitasi sekolah melalui dana DAK turun. Bangunan sekolah diperbaiki. Sebuah Taman Bacaan Masyarakat berdiri di sudut halaman. Rak-rak buku mulai terisi. Anak-anak datang membaca bahkan setelah jam sekolah selesai.

Kabar bahagia lainnya akhirnya datang untuk para guru honor yang selama ini setia berjuang bersama sekolah. Setelah melewati penantian panjang, seluruh guru honor di SDN Watupedar diangkat menjadi pegawai negeri paruh waktu. Hari itu suasana sekolah penuh haru. Beberapa guru menangis bahagia karena perjuangan mereka akhirnya dihargai negara.

Bagi Erna, kebahagiaan terbesar bukan hanya tentang bangunan baru atau penghargaan yang datang silih berganti. Ia bahagia karena orang-orang yang selama ini bertahan dalam keterbatasan akhirnya mendapatkan harapan yang lebih layak.

SDN Watupedar yang dulu hampir ditutup perlahan berubah menjadi sekolah penggerak dan dikenal sebagai contoh gerakan literasi di daerah.

Suatu sore, Erna berdiri di depan taman bacaan sambil memandang murid-murid membaca dengan riang. Matahari senja menyentuh halaman sekolah yang kini jauh lebih hidup.

Di antara suara anak-anak yang membaca puisi dan membalik halaman buku, aroma cengkeh yang dijemur warga terbawa angin dari kebun-kebun di perbukitan. Dari kejauhan, beberapa buah durian matang jatuh terdengar pelan di kebun belakang kampung.

Erna tersenyum haru.

Ia akhirnya mengerti satu hal:
perubahan besar tidak selalu lahir dari tempat ramai.

Kadang, dari tanah sunyi yang nyaris dilupakan, buku-buku justru menemukan cahayanya untuk menyala.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait