Adrianus Bareng
Mesin bajak itu meraung sejak pagi.Suaranya memecah ketenangan Desa Namang Kewa yang selama puluhan tahun akrab dengan denting cangkul dan sapaan para petani yang berangkat ke kebun. Mata besi yang berputar membelah tanah dengan cepat. Dalam beberapa jam saja, sebidang ladang yang dahulu membutuhkan banyak orang dan berhari-hari kerja kini selesai dikerjakan.
Mo’an Kornelis berdiri di tepi jalan kebun.
Ia memandangi traktor yang bergerak maju mundur di bawah terik matahari. Debu beterbangan. Burung-burung yang biasa mencari makan di ladang terbang menjauh.
Beberapa warga berdiri di bawah pohon asam.
Mereka menonton sambil berbincang.
“Setengah hari sudah selesai.”
“Kalau dulu bisa sampai seminggu.”
“Zaman sekarang semua harus cepat.”
Terdengar tawa kecil.
Namun Kornelis tidak ikut tertawa.
Matanya mengikuti jejak roda yang membelah tanah.
Entah mengapa, setiap kali melihat mesin itu bekerja, ia merasa ada sesuatu yang ikut terkubur.
Bukan rumput.
Bukan akar.
Melainkan kenangan.
Di sampingnya berdiri Du’a Sari.
Pemudi itu ikut memperhatikan ladang yang sedang dibajak.
“Kebun ketiga minggu ini,” katanya pelan.
Kornelis mengangguk.
“Dan mungkin bukan yang terakhir.”
Mereka terdiam.
Di kejauhan Gunung Egon berdiri membiru. Angin membawa aroma tanah kering yang bercampur dengan bau solar dari mesin bajak.
Sari menghela napas panjang.
“Masih ingat waktu kita kecil?”
“Tentu.”
“Ketika musim tanam seperti pesta.”
Kornelis tersenyum tipis.
Ingatan itu datang begitu saja.
Dulu, ketika hujan pertama turun dan tanah mulai lunak, orang-orang berkumpul sejak subuh.
Laki-laki datang membawa cangkul.
Perempuan membawa makanan dalam bakul.
Anak-anak berlari di antara kebun.
Tua dan muda bekerja bersama.
Hari ini membantu kebun keluarga A.
Besok keluarga B.
Lusa keluarga C.
Tradisi itu disebut Sako Seng.
Tidak ada upah.
Tidak ada perjanjian tertulis.
Tidak ada hitung-hitungan keuntungan.
Yang ada hanya keyakinan bahwa pekerjaan berat akan menjadi ringan jika dipikul bersama.
Namun kini semuanya berubah.
Orang-orang lebih memilih menyewa mesin.
Lebih cepat.
Lebih praktis.
Lebih menguntungkan.
Dan sedikit demi sedikit, Sako Seng hanya tinggal cerita yang diucapkan para tetua ketika malam tiba.
Malam itu Kornelis duduk di beranda rumah.
Langit Namang Kewa dipenuhi bintang.
Dari kejauhan terdengar suara ombak yang memecah pantai.
Desa tampak tenang.
Namun pikirannya tidak.
Ia teringat wajah para tetua yang sering bercerita tentang masa lalu.
Mereka tidak pernah membanggakan banyaknya hasil panen.
Mereka selalu bercerita tentang orang-orang yang datang membantu.
Tentang tawa di tengah lumpur.
Tentang makan bersama di bawah pohon.
Tentang persaudaraan yang tumbuh di antara barisan cangkul.
Kornelis menunduk.
Mungkin yang sedang hilang bukan sekadar cara mengolah tanah.
Mungkin yang sedang hilang adalah cara hidup.
Keesokan harinya ia menemui Sari.
Mereka duduk di bawah pohon beringin dekat balai desa.
“Kita harus melakukan sesuatu.”
Sari memandangnya.
“Maksudmu?”
“Menghidupkan kembali Sako Seng.”
Pemudi itu tersenyum kecil.
“Banyak yang sudah mencoba.”
“Aku tahu.”
“Mereka gagal.”
Kornelis menatap jalan desa yang lengang.
“Lalu siapa lagi yang akan mencoba?”
Sari tidak langsung menjawab.
Angin menggoyangkan dedaunan di atas kepala mereka.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan,
“Baiklah. Kita mulai.”
Mereka berkeliling desa.
Dari rumah ke rumah.
Dari kebun ke kebun.
Mereka mengajak warga untuk mengadakan kembali Sako Seng.
Jawaban yang mereka terima hampir sama.
“Untuk apa?”
“Sudah ada traktor.”
“Anak-anak sekarang tidak suka kerja kebun.”
“Itu zaman dulu.”
Sebagian menolak dengan halus.
Sebagian menolak dengan tawa.
Ada pula yang menganggap usaha mereka lucu.
Suatu sore mereka bertemu sekelompok pemuda di kios.
“Kalian serius mau hidupkan tradisi itu?” tanya seorang pemuda.
“Serius.”
Pemuda itu tertawa.
“Kalau ada mesin kenapa harus pakai cangkul?”
Kornelis menjawab tenang.
“Karena tidak semua yang lama harus dibuang.”
“Tapi tidak semua yang lama harus dipertahankan.”
“Benar.”
“Lalu?”
Kornelis menatap wajah teman-temannya.
“Kami tidak sedang melawan teknologi.”
“Terus?”
“Kami hanya tidak ingin kehilangan jati diri.”
Beberapa pemuda saling pandang.
Lalu tertawa lagi.
Bagi mereka, kata-kata itu terdengar terlalu berat untuk urusan kebun.
Namun bagi Kornelis, itulah yang sedang dipertaruhkan.
Seminggu kemudian mereka memutuskan memulai.
Tidak perlu besar.
Tidak perlu megah.
Mereka memilih kebun milik Mama Marta, seorang janda tua yang lahannya belum diolah.
Kabar disebarkan ke seluruh desa.
Siapa saja boleh datang.
Membawa cangkul.
Membawa tenaga.
Membawa kemauan.
Hanya itu.
Pagi yang ditentukan akhirnya tiba.
Kabut masih menggantung di lereng bukit.
Ayam-ayam baru saja turun dari kandang.
Kornelis datang paling awal.
Kemudian Sari.
Lalu Mama Marta.
Setelah itu mereka menunggu.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Jalan menuju kebun tetap sepi.
Tidak ada rombongan petani.
Tidak ada suara riuh.
Tidak ada langkah kaki berbondong-bondong seperti yang mereka bayangkan.
Akhirnya dua orang tua datang.
Kemudian seorang pemuda.
Hanya itu.
Jumlah mereka bisa dihitung dengan jari.
Harapan yang semula membumbung perlahan turun.
Namun pekerjaan harus dimulai.
Cangkul pertama menghantam tanah.
Disusul cangkul kedua.
Lalu ketiga.
Mereka bekerja dalam diam.
Matahari semakin tinggi.
Keringat mengalir di wajah.
Punggung terasa pegal.
Tetapi mereka terus bergerak.
Siang hari langit berubah gelap.
Awan turun dari arah perbukitan.
Angin bertiup lebih kencang.
Tak lama kemudian hujan datang.
Mula-mula gerimis.
Lalu deras.
Kemudian sangat deras.
Air membasahi tanah.
Membasahi tubuh mereka.
Membasahi harapan yang mulai goyah.
Beberapa orang memilih pulang.
Tersisa Kornelis, Sari, dan Mama Marta.
Mereka berteduh di bawah pohon.
Kebun itu masih jauh dari selesai.
Kornelis memandang hamparan tanah yang belum tergarap.
Untuk pertama kalinya ia merasa lelah.
Bukan karena bekerja.
Melainkan karena merasa kalah.
“Mungkin mereka benar.”
Sari menoleh.
“Tentang apa?”
“Bahwa kita terlambat.”
Hujan terus turun.
Air mengalir di sela-sela tanah.
Kesunyian terasa lebih berat daripada cuaca.
Di tengah hujan itu muncul sosok tua berjalan perlahan.
Ia membawa payung bambu.
Langkahnya pelan.
Rambutnya putih seluruhnya.
Namanya Mo’an Yohanes.
Salah satu tetua yang dihormati di desa.
Ia berhenti di depan mereka.
“Kalian menyerah?”
Kornelis tersenyum pahit.
“Kami hampir tidak punya orang.”
Mo’an Yohanes memandang kebun itu.
Lalu meletakkan payungnya.
Tanpa banyak bicara, ia mengambil sebuah cangkul tua.
Kemudian mulai bekerja.
Satu ayunan.
Dua ayunan.
Tiga ayunan.
Tubuhnya memang tidak lagi kuat.
Tetapi semangatnya masih tegak.
Setiap hentakan cangkul seolah membawa cerita dari masa lalu.
Tentang orang-orang yang dahulu memenuhi ladang.
Tentang kebersamaan yang pernah menjadi napas desa.
Melihat itu, Kornelis kembali turun ke kebun.
Sari ikut menyusul.
Mereka bekerja bersama lelaki tua itu.
Hujan perlahan mereda.
Langit mulai terang.
Dari kejauhan beberapa warga memperhatikan.
Ada yang berhenti.
Ada yang mendekat.
Ada yang hanya berdiri sambil menonton.
Namun ketiganya terus bekerja.
Tanpa pidato.
Tanpa ajakan.
Tanpa keluhan.
Hanya bekerja.
Menjelang sore sesuatu yang tak mereka duga terjadi.
Seorang pemuda datang membawa cangkul.
Lalu seorang lagi.
Kemudian dua perempuan.
Tak lama kemudian beberapa anak muda lainnya ikut bergabung.
Jumlahnya memang belum banyak.
Tetapi cukup membuat kebun itu terasa hidup.
Terdengar tawa.
Terdengar candaan.
Terdengar suara orang saling memanggil.
Mama Marta beberapa kali menyeka matanya.
Sudah lama ia tidak melihat suasana seperti itu.
Sudah lama kebun terasa seramai ini.
Hari-hari berikutnya mereka terus bergerak.
Dari satu kebun ke kebun lain.
Dari satu keluarga ke keluarga lain.
Tidak semua berhasil.
Tidak semua ramai.
Namun selalu ada orang yang datang.
Sedikit demi sedikit.
Seperti mata air kecil yang perlahan menemukan jalannya.
Anak-anak mulai ikut melihat.
Mereka bertanya tentang Sako Seng.
Mereka mendengar cerita dari para tetua.
Mereka belajar bahwa kebun tidak selalu tentang hasil panen.
Kadang-kadang kebun juga tentang hubungan manusia.
Tentang saling membantu.
Tentang mengenal sesama.
Tentang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
Suatu sore mereka duduk di bawah pohon besar setelah selesai bekerja.
Matahari mulai turun ke arah laut.
Langit berubah keemasan.
Angin membawa aroma rumput basah.
“Menurutmu ini akan bertahan?” tanya Sari.
Kornelis memandang ladang yang terbentang di depan mereka.
“Aku tidak tahu.”
“Takut hilang lagi?”
“Sedikit.”
Sari tersenyum.
“Kalau hilang, kita mulai lagi.”
Kornelis tertawa kecil.
Mungkin memang begitu.
Tidak semua hal harus menang besar.
Kadang cukup bertahan.
Kadang cukup terus dihidupkan.
Meski hanya oleh segelintir orang.
Musim tanam berikutnya tiba.
Traktor masih bekerja.
Mesin masih meraung di banyak kebun.
Teknologi tetap berjalan.
Tak ada yang bisa menghentikannya.
Dan tak ada yang berniat menghentikannya.
Namun di beberapa sudut Namang Kewa, suara lain mulai terdengar kembali.
Suara cangkul.
Suara tawa.
Suara orang-orang yang bekerja bersama.
Suara yang sempat hampir hilang.
Pada suatu pagi Kornelis berdiri di sebuah bukit kecil.
Dari sana ia melihat hamparan ladang yang luas.
Di satu sisi, traktor bergerak membelah tanah.
Di sisi lain, sekelompok warga sedang melakukan Sako Seng.
Dua pemandangan berbeda.
Dua zaman yang berjalan berdampingan.
Angin bertiup lembut.
Membawa aroma tanah yang baru dibalik.
Membawa suara percakapan dari kejauhan.
Sari datang berdiri di sampingnya.
Mereka memandang ke arah ladang tanpa berkata apa-apa.
Tidak ada kemenangan besar.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada jaminan bahwa tradisi itu akan tetap hidup selamanya.
Yang ada hanyalah orang-orang yang memilih bertahan.
Orang-orang yang percaya bahwa kemajuan tidak harus menghapus ingatan.
Orang-orang yang masih mau datang membawa cangkul ketika sebagian besar memilih mesin.
Di bawah cahaya pagi yang menyinari Namang Kewa, suara cangkul kembali terdengar di antara ladang-ladang.
Mungkin jumlah mereka tidak banyak.
Mungkin mereka hanya segelintir.
Mungkin suatu hari nanti mereka akan kembali menjadi minoritas.
Namun pagi itu mereka masih ada.
Masih bekerja.
Masih tertawa.
Masih menjaga jejak yang ditinggalkan para leluhur.
Dan di tengah roda zaman yang terus berputar, mereka berdiri sebagai orang-orang terakhir di ladang.

